Konon, pada zaman dahulu kala, alkisah, di sebuah antah berantah, ada sebuah kerajaan yang megah. Rajanya makmur, rakyatnya jujur dan adil sehingga kehidupan kerajaan berjalan begitu baik dan selaras. Program kerajaan yang teratur, pejabat yang benar-benar mengutamakan rakyat, anggaran sesuai dengan manfaat, suksesnya program KB, lalu keadaan lalu lintas yang lancar, koordinasi seimbang antara kerajaan pusat dan daerah, serta maksimalnya pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia lokal yang unggul membuat kerajaan ini bikin iri sebuah negara kepulauan nun jauh di sana.
Di sudut jalan ibukota kerajaan, seorang pengamen sedang duduk bersandar di tembok luar sebuah toko sambil memainkan harmonika yang baru ia beli dari eBay.
“Hugo! Berhentilah main lagu itu! Aku tak suka!” Kata Joseph, pemilik toko yang dindingnya disandari oleh pengamen itu.
“Baiklah, kau mau lagu apa? Aku fleksibel.”
“Coba mainkan lagu yang lebih elegan, Mozart atau Beethoven.”
“Mozart? Beethoven? Bukannya mereka belum lahir?”
“Betul juga. Jadi, apa baiknya?”
“Melinda?”
“Cinta Satu Malam itu? Mainkan sob!”
Siang yang mendung itu terasa damai dengan alunan harmonika Hugo, angin semilir tercium di sela-sela nada yang mengalun. Wangi pepohonan yang terjejer rapi, wangi rumput, wangi roti bakar toko sebelah, wangi parfum dari toko sebelah yang lain, wangi uang yang dijatuhi ke kaleng di depan Hugo, wangi kotoran kuda.. ah.. Beginilah akibat transportasi jalan yang masih mengandalkan kereta kuda dan beberapa pemilik kereta kadang bandel, kuda mereka ada yang tidak lulus uji emisi. Tapi sigapnya hukum di kerajaan ini membuat hal tersebut bisa diantisipasi secepatnya dengan razia dan pembinaan mental bagi para kusir dan kuda-kudanya.
Orang yang mengelilingi Hugo bertepuk tangan, melemparkan uang receh dan kertas, ada yang memberikan cek, anak-anak kecil memberi celengannya yang belum dipecahi. Memang, sejak Klantink juara di ajang pencarian bakat, para pengamen sangat diperhitungkan masyarakat layaknya cerpenis ataupun penulis yang karyanya dimuat di koran-koran dan bukunya menjadi best seller.
Hugo menyudahi lagunya, ia tersenyum kepada para penontonnya, dan satu per satu penonton membubarkan diri. Kecuali lima orang perempuan cantik yang masih bertahan. Hugo memang tampan dan memukau, ia berbakat dan pintar, tak heran ia punya banyak penggemar perempuan.
“Mas Hugo, boleh minta nomornya nggak?” Tanya seorang perempuan itu.
“Em..nomor apa ya?” Hugo balik bertanya.
“Nomor dong mas.. biar kita bisa surat-suratan.”
“Oh, tapi aku nggak punya telepon. Mahal.”
“Ya sudah, mana burungnya mas Hugo? Keluarin dulu coba.” Jawab perempuan itu.
“Burung?”
“Iya…” Perempuan itu mengedipkan mata.
“Oh…oke…” Hugo lalu berdiri dan memegang ikat pinggangnya, lalu mengambil sebuah kantung yang digantung di sana, kantung berlubang-lubang kecil. Hugo mengambil seekor burung merpati dari dalamnya.
“Ini, tulis saja alamatmu,” Hugo menyerahkan burung merpatinya kepada perempuan itu. Perempuan itu lalu menuliskan sebuah alamat di salah satu bulu merpati milik Hugo. Sudah hampir setengah tubuh merpati itu terisi oleh alamat-alamat.
“Tulis juga alamatmu ya mas Hugo,” Ujar perempuan tadi sambil memanggil burung elangnya yang hampir penuh oleh alamat-alamat.
Di kerajaan ini, menggunakan burung adalah komunikasi paling penting. Telepon hanya digunakan raja, pejabat, bangsawan dan orang-orang kaya. Masyarakat lebih memilih memakai jasa burung. Tidak hanya merpati, hampir semua jenis burung bisa digunakan. Harga mereka berbeda-beda dan biaya yang dikeluarkan hanya berupa pakan burung. Tapi burung-burung juga punya intuisi bisnis yang tajam, sehingga pemilik burung juga perlu memikirkan anggaran untuk penggunaan burung.
Hugo misalnya, dia punya merpati dan termasuk burung jenis paling murah di atas burung gereja dan anak ayam. Karena itu untuk menyampaikan pesan lebih lambat sampai dibanding burung yang lebih mahal seperti elang atau camar. Dan merpati itu bakal menuntut makanan lebih banyak jika disuruh mengantarkan pesan ke pemilik burung jenis lain semisal dari pemilik merpati ke pemilik elang, atau ke pemilik nuri. Beda operator katanya.
Jenis burung juga menentukan jenis pesan yang diantar. Seorang yang jatuh cinta rela merogoh kocek lebih demi membeli Cendrawasih yang cantik untuk mengantarkan surat cintanya kepada orang yang disukai, atau burung hantu untuk mengantar surat peringatan, dan ada pihak dengan tujuan kejahatan mengirimkan surat ancaman menggunakan burung gagak. Para polisi kerajaan menggunakan beo dan kakatua sebagai penyadap, dan burung nazar sebagai pelacak sekaligus pemburu.
***
Ada 200 notifikasi di sofa lubang-lubang milik Hugo, lebih tepatnya 200 lembar surat. Kebanyakan dari perempuan. Dan itu dalam sehari, kadang ia sulit membalas semuanya karena selain mengeluarkan banyak makanan burung, dia juga lelah. Meskipun di antara penggemarnya ada yang sampai mengirim uang untuk isi pakan burung. Meski alasan paling benar untuk Hugo adalah hatinya yang terpaut oleh putri raja.
“Jangan mimpi boi! Tuan putri dengan kau itu jauh sekali bedanya. Bagaikan Upin dan Ipin!” seru Joseph pertama kali tahu Hugo menyukai putri.
“Terserahlah, aku sudah jatuh cinta padanya. Sejak pandangan pertama! Bayangkan!”
Hugo mengulang-ulang ingatannya saat pertama kali bertemu putri raja. Saat masa kampanye, raja yang masih calon raja melakukan kampanye turun ke jalan, menyapa setiap masyarakat, dan putri tunggalnya, Aurella, diajak berkeliling. Hugo yang sedang memainkan harmonika di depan toko, memainkan harmonka seperti biasanya, penuh penghayatan, sambil menutup mata.
“Cring..cring..” Suara gemerincing jatuh ke kaleng milik Hugo. Hugo membuka matanya dan takjub melihat jemari yang begitu lentik, gaun hitam yang anggun. Dan ketika mendongak ke atas, sang putri sudah jauh berlalu dengan skateboardnya. Sejak saat itulah, Hugo langsung jatuh cinta.
Seekor burung berwajah kancil tiba-tiba masuk dari jendela Hugo dan menjatuhkan sebuah surat. Hugo membuka dan membacanya.
“Kalau pesan ini sampai, kirimin mama duit ya.. Kirimin ke alamat di bawah surat ini, mama lagi pinjem burung punya temen mama. –mama-“
Hugo membuang surat tersebut, pasti itu penipuan. Tiba-tiba datang lagi seekor rajawali gagah dengan kalung kecil berlogo kerajaan dan berhologram menjatuhkan surat. Segera saja Hugo membacanya.
“Sayembara! Di sini gunung di sana gunung. Di tengah-tengahnya pulau Jawa. Bagi warga kerajaan yang merasa punya bakat di bidang musik ataupun tarik suara, individu atau berkelompok, berpenampilan menarik, baik hati dan tidak sombong. Ikut yuk! Audisi musisi kerajaan, yang akan diadakan pada:
Tanggal : Besok
Pukul : Dari pagi
Lokasi : Gedung di sono noh..
Fasilitas: 1. Sertifikat, 2.Konsumsi, 3.Stiker kerajaan
Tiada kesan tanpa kehadiran kalian. Salam. Kerajaan”
Hugo menahan napasnya (sedikit menahan kentut). Pucuk dicinta ulam pun tiba, ia mendapat jalan untuk mendekati tuan putri. Hugo mengucap syukur dan berpikir betapa baiknya penulis cerita ini membuat jalan untuknya mendekati sang putri.
***
Sepanjang malam Hugo tidak tidur, dia benar-benar berlatih dan mencari referensi musik yang akan dimainkannya besok. Ia membuka youtube, chatting dengan temannya, kadang curhat pada langit kala ia memainkan harmonikanya sambil berbaring, curhat pada merpatinya. Hugo tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, ia akan tampil maksimal agar putri Aurella bisa terpikat dengannya.
Hari yang dinanti tiba. Hugo bangun pagi sekali, menyapu rumah, mencuci baju dan membuka situs astrologi untuk melihat peruntungan zodiaknya hari ini. Hugo mengenakan baju terbaiknya, berkaca lebih dari tiga puluh menit, dan mendehem-dehemkan tenggorokannya agar tak gugup.
Perjalanan ke kastil kerajaan di puncak bukit tidak terlalu jauh. Sesampainya di istana, peserta sudah memenuhi lapangan kastil. Hugo memperhatikan peserta lainnya, pemain biola, kecapi, harpa, dan beberapa kelompok sedang berlatih bersama, perkusi, grup vokal, dan banyak lagi.
“Kau pemain harmonika?” Seseorang memegang pundak Hugo dari belakang.
“I..iya..”
“Aku pernah melihatmu waktu di kota, sepertinya kau lawan berat.”
“Kau pemain harmonika juga?”
“Bukan, aku pemain gitar.”
Hugo menoleh ke belakang, melihat seorang yang penampilannya nyentrik, dan memberi kesan misterius.
“Namaku Slash, kita bersaing ya,” Ujar orang itu memperkenalkan diri. Lalu pergi menyapa peserta lain, Cherrybelle, seolah-olah mengintimidasi semua peserta. Hugo menahan napas, saingannya benar-benar berat.
Audisi dimulai, beberapa peserta tampil langsung di depan raja dan putrinya. Ya, putri Aurella! Hugo tak memperhatikan mereka yang tampil, pandangannya tak bergeming dari Aurella yang begitu mempesona. Hugo bingung mengapa setiap putri raja pasti cantik, seperti apapun rupa sang raja ataupun permaisurinya.
“Cukup! Jelek sekali! Aku tak suka! Celupkan dia ke lumpur!” Bentak raja mendadak menghentikan penampilan seorang pemain gendang. Tak lama, muncul pengawal kerajaan dan langsung membawa peserta itu keluar istana lalu dilemparkan ke dalam lumpur yang kotor dan bau. Seluruh peserta terkejut, tak terkecuali Hugo. Di antara mereka ada yang mencoba protes, raja tetap tenang.
“Kalian tidak baca ketentuan khusus?” Tanya raja sambil menunjuk bagian kanan bawah kertas sayembara. Semua langsung membacanya, tulisan sangat kecil, bahkan dikira noda bekas fotocopy. Tertulis di sana: RAJA TAK PUAS, RESIKO TANGGUNG SENDIRI!
Peserta yang lemah mentalnya langsung mengundurkan diri, sisanya yang percaya diri tetap melanjutkan karena merasa saingan berkurang. Hugo mantap dengan keputusannya untuk terus maju. Acara akhirnya dilanjutkan, meski tetap banyak yang berguguran.
“Musiknya tidak sesuai dengan seleraku! Pengawal! Pulangkan dia pakai meriam istana!”
“Ah! Katamu kau rocker, kenapa musikmu banci begitu? Pengawal! Ikat dia ke pohon di Taman Lawang selama dua malam!”
Tibalah giliran Hugo. Hugo memainkan harmonikanya dengan elegan, memainkannya dengan sangat lembut, tapi lantang. Putri Aurella nampak terpana, raja mengangguk-angguk sambil memutar-mutar jari tunjuknya.
“Nak, kau lolos ke final.”
***
Hugo benar-benar gugup sekarang, final menyisakan dua kontestan. Penjurian kian ketat, ditambah senyum putri Aurella yang memikat.
“Siapa lawanmu, boi?” Tanya Joseph yang tiba-tiba muncul.
“Zivilia.”
“Oh boi, aishiteru itu?”
Hugo hanya mengangguk, grup band saingannya itu baru selesai menyanyikan lagu dan mendapat penilaian sangat baik dari para juri. Dan jantung Hugo makin berdebar kencang seperti gendering mau perang. Ketika ia melangkah ke depan raja yang duduk di singgasananya.
“Oke, Hugo. Di sebelah kiri ada kamera, di sana juga kamera, jadi kalau menyerah atau tidak kuat, tinggal melambai ke arah kami.” Seorang staf kerajaan menjelaskan sebelum Hugo memulai permainannya.
Harmonika sudah menempel di bibirnya, pelan menarik nafas, hembus nafas lembut terhembus ke lubang-lubang harmonika 4GB yang terisi 200 instrumen lagu buatannya sendiri. Meski begitu, Hugo tidak akan lipsing karena harmonika adalah jiwa jika baginya. Nada mulai keluar, kepiawan Hugo tak diragukan. Semua yang mendengar seolah diajak untuk menghayati. Nuansa jazz, alunan pop, hentakan black metal, punk, dan bumbu keroncong serta nikmatnya campuran dangdut membuat ruang istana begitu syahdu. Ditutup dengan sebuah nada panjang, semua bertepuk tangan atas keindahan nada harmonika Hugo.
Tibalah saat pengumuman.
***
Di dinding luar istana, seorang laki-laki bersandar menatapi harmonikanya. Wajahnya murung, begitupun ekspresi merpati di pundaknya. Ia kecewa, di saat terakhir justru gagal.
“Dan yang terpilih sebagai musisi kerajaan adalah….. ZIVILIA! Alasannya sederhana, hanya saya selaku raja dan penulis dongeng ini yang tahu. TAK BOLEH GANGGU GUGAT!”
Terngiang sekali betapa kata-kata itu, ia malu di hadapan putri Aurella. Pupuslah harapannya bekerja di istana dan dekat dengan Putri.
“Cowok..” Suara perempuan membuyar lamunan Hugo. Ia menoleh kanan dan kiri, tidak ada siapapun.
“Di atas, aku di atas..” Hugo mendongak. Di atas dinding kastil yang ia sandari, ada sebuah lubang yang ternyata jendela kamar putri Aurella! Putri Aurella tersenyum. “Mainin satu lagu dong..” Pinta Putri. Hugo mengangguk. Ia menginjak sebuah batu persegi yang lebar, berdiri di sana dan mulai mengalunkan lagu dari harmonikanya.
Malam berlalu, suasana malam hanyut bersama nada harmonika Hugo. Pijakan Hugo juga seolah ikut terhanyut, pelan-pelan retak, sedikit demi sedikit berlubang, masih tertulis di sana. SEPTIC TANK ISTANA.
…
Tak lama, malam tiba-tiba menjadi sunyi. Dan bulan menjadi saksi, keretakan yang berujung sunyi.