RSS

RINDU-RINDU DALAM SAYAT SINGKAT: FOTO

Pagi adalah musim yang tepat untuk menuang susu
dan mengaduknya pada doa-doa yang kuucap lalu kukecupkan
di punggung tanganmu
demi rekah rambut yang menyibak rempah-rempah rindu
berkeciaplah rona pipimu yang tersipu-sipu
dalam bingkai foto
: satu-satunya tempat merangkai napasmu yang tak pernah dinisankan usia


Malang, 06042012
Andi Wirambara

 
Leave a comment

Posted by on June 4, 2012 in Puisi

 

DUA FOTO YANG SUDAH KAUHAPUS DAN MASIH KUINGAT

1. BONEKA-BONEKA DI TEMPAT TIDUR

kau baru bangun, dan boneka-boneka masih betah
memelukmu. gonggongan pudel keluar dari mulut
bantal guling, begitu manja, menggoyang-goyangkan
buntutnya mengajakmu yang masih kuyu
untuk berlompat-lompatan di atas rumput yang
empuk. seperti pipi belum dicucimu. seperti
senyum belum mandimu. seperti suara bangun
tidurmu yang pelan-pelan sesap ke telingaku
sebagai bantal menidurkan rindu-rindu dan
membuatnya memimpikanmu berabad-abad cahaya

boneka-boneka di tempat tidurmu berserakan
serupa jaring nelayan di sudut-sudut samudera yang
disebar-selebar lengan yang menawarkan pelukan
mengapung-apungkan ulam mengikuti arus peta
dan berlabuh di lembar-lembar angin terangkut
ke jendela kamarmu. melekat seperti embun dan
seperti namamu di dadaku. mengintipmu yang
baru bangun di antara boneka-boneka begitu betah
bersamamu. diam. dan mati dalam napasmu yang
tercecer di tempat tidur.

2. BERDIRI DI DEPAN CERMIN

kau berdiri di depan cermin. dan memotret dirimu
sendiri, sementara kursi yang terpotret di belakangmu
lupa berdandan lalu malu pada taburan kosmos
di bibirmu yang sesungguh-sungguhnya salju.
menggugurkan daun-daun, menukarnya dengan dingin
yang gigilkan ulat bulu dalam balutan kepompong.
senyummu pula mengepung deras sungai dalam aroma
akar-akar gambut tempat rinduku terikat, tak sudi lepas.

kau berdiri di depan cermin, dan memerangkap diri
dalam sehelai foto yang lalu kupandangi betapa lama
hingga barangkali aku telah lupa selama itu telah
berapa kali mati dan bereinkarnasi. sebagai wujud
wangi-wangi rambutmu. habiskan renung di barisan poni
tempatku bergelantung dan menghabiskan puluhan windu
memandangi fotomu di sana seraya mencari saat
yang tepat untuk berayun dan mengecup keningmu

—-
Malang, 26052012

 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2012 in Puisi

 

Jauh Kupu-kupu Jalani Rindu Sendiri

i. JAUH
Betapa jauh kita memandang sebuah tempuh
sedang setapak tiba-tiba bergetah
lalu kubuatkan kau jembatan
dari patahan harap yang kujengkalkan
kau berancang, hendak dahulu menyeberang
menatapi ujung jalan, menapak pandang
pada golek nyiur nampak menyirat tanda

Semilir tiba-tiba menyilang kita
bawamu ke seberang dan aku
hempas sekian tahun ke belakang
membekal luka, jauh
mengulang tempuh

ii. KUPU-KUPU
Aku menemukan kupu-kupu di matamu. tersesat
mencari arus pulang. hanya begitu bijak airmata
berdiam sembunyikan muaranya. karena itu, aku
tak mau jadi kupu-kupu. tak mau mengepak tanya
di matamu. sebab aku tahu di mana sang muara, ada
di secelah hatimu. menganga kolam tempatku dulu
pernah meluruh dahaga. tempatku bermetamorfosa
menjadi ikan yang berkecipak. renangi sisa jalan
laluku, yang masih belum tuntas atas segala jujur
untuk kutelusur

iii. JALANI
jalani saja sekalipun waktu
kian congkaknya
pun gelisah masih menggelinjang
menekuri ketidakmungkinan

iv. RINDU
Lagi-lagi rindu luruh, mengetuk hentak menjeda golak yang sederhana . Hujan tergugu lalu mengalah, menjatuhi derai di dadaku saja. Sementara payung-payung rebah, terusang pasrah. Kautahu, aku lebih memilih basah hujan-hujanan daripada berteduh mengudap waktu yang lepuh, ingatkanku mengapa taut kita begitu jauh.

Aku menjulur ujung lidahku, merasa tiap kenang yang jatuh. Mencecap sendiri, merasa apa-apa yang sempat ada. Sedang kau berlompatan, kecipakkan tiap kubangan, tiap genangan perasaan.

Bolamataku, mendadak perih. Seolah terinjak, lalu lepih.

v. SENDIRI
Senyummu kulengkung
Di dinding pojok relung
Kuku jemariku, pelan terkelupas
Dari jendela, rindu membias

Kukatakan, aku tak sendiri
Di pojok relung itu
Senyum lain menampang
Menantiku pulang

 
1 Comment

Posted by on May 1, 2012 in Puisi

 

Perjalanan Mengantarmu Pulang

1/

Selangkah usai keluar dari pintu gerbang, kita saling bertatap
“rumahmu ke kiri, aku ke kanan,” katamu.

Kupotong bayangan di ujung kaki dengan kuku kelingkingku
membiarkannya pergi ke kiri, dan aku menemanimu pulang.

2/

Mula-mula jalan setapak, lalu kita melewati jembatan
mata kita pernah berjumpa di sini, saling menyebrangi.

Di sisi-sisinya, aku pernah menghitung jumlah hujan
yang pecah di muka sungai. bercampuran air matamu.

3/

Pernah suatu kali aku berjalan menabrak tiang rambu-rambu
kau tertawa, mengelus-elus besi yang melebamkan keningku

Pada bundar papannya, tergambar huruf S dicoret miring. dan
aku teramat tahu, itu bukan isyarat untuk berhenti merindukan.

4/

Kau bercerita tentang persimpangan seratus meter di depan
konon, kekasih yang bergandeng melewatinya, akan berpisah.

kugenggam tanganmu erat, melangkah yakin. agar kau tahu
kita bisa mencipta konon-konon yang baru, yang lebih haru.

5/

Kita lewati sebuah taman, kubayangkan kau menyaksikan
aku mendorongmu yang duduk riang di atas ayun-ayunan.

Dan kau bergurau, pun aku, dengan lugu tingkah laku
sebagai sepasang keceriaan yang kembali ke masa kanak.

6/

Kelak, ketika mesin waktu benar-benar berhasil diciptakan
aku berharap memiliki kamera bermemori seluas relung dada.

Merekam berabad-abad perjalanan, lalu lalang hal remeh indah
yang pernah kulupa: seperti kapan debar pertama untukmu ada.

7/

Dan akhirnya kita tiba. di pagar rumahmu, sepasang burung
tengah hinggap, saling mematuk, saling memberi kecupan.

Cukup di sini, kita saling melambaikan tangan. lalu saling
bertukar senyuman. sedang teduh jalan menjadi kian rindang.

-
(Malang, Andi Wirambara)

 
1 Comment

Posted by on April 13, 2012 in Puisi

 

[parodi] Evan Idol (eps 1)

Hanya di Kepulauan Minfi, bisa ditemui sebuah negara berbentuk kerajaan dengan kepala negara yang disebut “Presiden Raja”, dan istri sang Presiden Raja dipanggil dengan sebutan “Ratu Negara”. Kedengarannya serakah, namun begitulah adanya. Di kerajaan—atau barangkali Republik Kerajaan—ini memang sedikit berlebihan dalam hal apapun. Menggunakan sistem politik “Liberal Sosialita Otoriter Demokratis”, kerajaan ini benar-benar pintar dalam mendapat, mengolah, memanfaatkan, sekaligus memfoya-foyakan kekayaan kerajaan mereka. Hampir tidak ada warganya yang berkekurangan. Hanya bagaimanapun, kasta harta tampaknya berlaku di mana-mana. Misalnya, untuk keluarga yang harga toilet di rumahnya 2 miliar seringkali meremehkan orang yang toilet di rumahnya hanya seharga 300-999 juta saja. Dan untuk keluarga yang harga toiletnya 2 miliar, jika di rumahnya ada kalender yang nilai jualnya di bawah 1,3 miliar, itu adalah aib.

“Papa, itu kalender bergambar artis Korea idolaku, kenapa dibuang?”
“Harganya berapa?”
“825 juta…”
“Apa? Kamu mau bikin malu keluarga, hah?”
“Tak ada lagi yang lebih mahal, Papa!”
“Pokoknya sekali lagi kamu beli kalender di bawah 1,3 miliar, langsung papa bakar!”

Anak itu menangis. Sebagai seorang anak Pejabat Bangsawan, terkadang ia merasa kehidupannya amat pedih. Standar kehidupan terlampau tinggi. Padahal ia ingin sekali merasakan hidup sederhana. Beginilah sedikit potret bangsa yang juga dikenal memiliki kengerian dalam militernya. Konon, setiap Tentara Ksatria di sana pandai menggunakan sniper sambil berkuda.

Setiap indikator maju-tidaknya sebuah negara tentu akan melihat siapa pemimpinnya. Di utara gunung Musrum—gunung tertinggi di Kepulauan Minfi—terdapat sebuah istana yang dihuni oleh Presiden Raja beserta keluarganya. Evan, presiden raja dengan wibawa dan kecentilan yang penuh karisma, kealiman yang tak kalah apik dengan sifat mesumnya, juga kecerdikannya dalam mengelola kekuasaannya di Kepulauan Minfi dapat ragu dipastikan lagi. Hanya saja, istana sedang tidak sesentosa keadaan di luar. Selalu ada konflik di dalam keluarga. Termasuk kali ini, Presiden Raja Evan harus dipusingkan ulah Puteri semata wayangnya, Deaurella.

“Sampai kapanpun aku takkan menerima perjodohan, Ayah!”
“Ayah tak menjodohkanmu, Nak…”
“Lalu?”
“Entah, ayah hanya diberitahu kalau yang ayah lakukan itu pencomblangan.”
“Sama saja, Ayah!”
“Apanya yang sama? Kau tahu apa?”
“KBBI, Ayah, KBBI! Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, comblang berarti orang yang menghubungkan laki-laki dan perempuan dalam perjodohan atau percintaan, atau muncikari, jaruman.”
“Kau mengejek ayah?”
“Terserah!”

Deaurella meninggalkan ruangan Presiden Raja Evan. Membanting pintu, mengacak-acak perabotan kayu di selasar istana, dan melempari bingkai-bingkai foto yang sebenarnya iPad 4 yang ditempelkan di dinding istana.

Presiden Raja Evan memijat keningnya, lalu memanggil pelayannya. “Panggilkan penasihat kita.” Perintahnya agak lemas.
***

Dengan jubah kuning, pemuda itu berjalan santai menuju ruang kerja raja. Langkahnya hati-hati, seolah setiap sentimeter lantai istana terdapat ranjau atau kotoran yang dapat mengotori sepatunya. Ia pernah bercerita tentang sepatunya tersebut. Memang terlihat biasa, namun siapa sangka sepatu tersebut memiliki nilai historis yang begitu mengejutkan.

“Shakespeare yang memberikannya padaku.” Bisiknya di suatu siang kepada saudaranya yang menanyakan asal-usul sepatu itu. “Sepatu ini tak bisa kautemui di manapun, selain padaku.” Lanjutnya lagi sambil melirik ke sana ke mari seolah-olah ini adalah rahasia yang akan membahayakan umat manusia jika dibocorkan.

Pemuda itu tetap melangkah santai meski pintu ruang kerja raja tinggal tiga jengkal lagi. Lima belas menit kemudian, barulah ia mengetuk pintu. “Ya, silakan masuk.” Perintah suara dari dalam. Suara raja Evan. Pemuda itupun memutar gagang pintu artistik penuh ukiran berbentuk celana dalam.

“Anda mencari saya, bro paduka?” Pemuda itu memberi salam sambil berlutut.
“Sudah berapa kali kubilang, harusnya kau memanggilku lebih sopan.” Nada raja Evan sedikit tersinggung.
“Saya adalah penasihat kerajaan, Bung Paduka, anda tak pantas menasehati saya.”
“Terserah kau saja.”
“Lalu, mengapa ente memanggil saya?”
“Begini, puteri semata wayangku, Dearuella menolak pencomblangan terhadap dirinya. Dan yang kutahu, ia sangat ingin memiliki jodoh seorang idola. Apa kamu punya solusi?” keluh raja Evan.

Penasihat muda itu memangku dagu. Ini adalah posisi yang menandakan ia tengah berpikir keras. Jika sudah dalam posisi itu, barangkali jika istana sedang dijatuhi bom atom, ia takkan sadar. Atau mungkin jika ia dilempar ke luar angkasa, ia bisa lupa kalau di sana tidak ada oksigen. Rendra, itulah nama penasihat muda tersebut.

“Bagaimana, Penasihatku? Ide apa yang kau dapat?”
“Saya ingin menggulingkan anda kelak.”
“Hei, aku bertanya serius!”
“Ah, maaf. Bagaimana kalau kita buat suatu kompetisi.”
“Seperti?”
“Tahu American Idol?”
“Aku hanya tahu Indonesian Idol.”
“Siapapun yang mengikuti acara itu, ia sudah tergolong idola, bukan?”
“Iya, lalu hubungannya dengan rencanamu?”
“Belum paham?”
“Belum…” Raja Evan menggeleng.
“Huh, sudah kuduga harusnya aku yang jadi Presiden raja, bukan kamu, Paduka.”
“Hei! Apa maksudmu!”

Raja Evan naik emosinya. Mencabut pedang dari sarung yang digantungkan di pinggangnya. Sementara Rendra sang penasihat mengambil botol bedak bayi dan menekan tombol di pinggirnya sehingga mengeluarkan laser. Pedang laser. Ruang kerja istana berubah menjadi arena pertarungan bak Colloseum di Roma. Mereka beradu pedang dengan sangat sengit. Tak ada yang terluka, justru mereka terlihat kian lelah.

“Hah… hah… kau tetap hebat, Penasihatku.” Ucap raja Eva terengah-engah sambil bersandar di singgasananya.

“Dan kau tetap tangguh, Beb Paduka…” balas penasihat Rendra terengah-engah sambil bersandar di perut Taylor Lautner.

“Baiklah, kita lanjutkan diskusi kita. Bagaimana idemu tadi?”

“Begini, jika kerajaan pada zaman dahulu kala membuat sayembara adu keberanian untuk mendapat hati puteri raja, kita buat saja audisi. Yang lolos audisi akan kita adu dalam banyak permainan dan akan dieleminasi satu-persatu. Nah, agar peserta jadi idola, kita libatkan penduduk kerajaan berpartisipasi. Misalnya membuat voting SMS, atau menayangkan kompetisi secara langsung menggunakan layar tancap. Jadi, siapapun juaranya, dia pasti terkenal di seluruh negeri. Dan kalau perlu, kita undang Katy Perry, Justin Bieber, LMFAO, Lady Gaga, Super Junior, SNSD, Kara atau lainnya sebagai bintang tamu. Jadi , bukan hanya di kerajaan, tapi juaranya akan jadi idola di seluruh dunia.” Penasihat Rendra bicara panjang lebar.

“Ide yang brilian!” Seru raja Evan sambil tidur.

“Sudah sewajarnya.” Angkuh penasihat Rendra.

“Kapan dilaksanakan?”

“Mulai besok.”

***

Dengan menggunakan akun twitternya, @therendra, penasihat Rendra mulai sibuk membuat pengumuman di seluruh kerajaan.

Kepada seluruh warga yang berani menghadapi tantangan, segera berlangsung kompetisi menjadi idola.

Kompetisi apakah? Evan Idol! Akan menjadikan idola, dapat sebidang tanah raja di utara kerajaan, dan… punya pacar! Kabar gembira bukan, Jomblo?

Siapa pacarnya? Siapa lagi kalau bukan puteri terhormat kita, Deaurella.

Kompetisi terbuka dan gratis! Akan diadakan audisi di halaman istana. Untuk info lebih lanjut, follow dan baca timeline akun kerajaan kita, @EvanKongdom

Audisi dimulai besok. Bersiaplah pejuang!

Dalam sekejap, mention berdatangan dari masyarakat yang merasa pengumuman itu kurang jelas ke twitter penasihat Rendra. Pertanyaan mengalir dimulai dari apa saja yang akan dilakukan selama kompetisi, apa dibuka untuk semua gender, apa yang harus calon peserta tampilkan dalam audisi, bertanya apakah penasihat Rendra yang menjadi host, apakah penasihat Rendra mau men-followback mereka, sampai bertanya “Penasehat Rendra, TOEFL-mu berapa?”

Sementara di smartphone iBlackberry milik raja Evan, mention berdatangan tak ada habisnya. Kebanyakan melakukan pendekatan kepada Raja Evan agar bisa memperkenalkan puteri Deaurella tanpa harus mengikuti Evan Idol. Ada pula yang meminta foto puteri Deaurella. Menanggapi permintaan itu, raja Evan yang tak tahan lagi pun membalas. “Tinggal cek google!, kan? Atau tanya Chuck Norris!”

Kehebohan tak berhenti di situ. Di luar istana, penjaga-penjaga istana mulai kewalahan menghadapi antrian rakyat kerajaan yang ingin segera melaksanakan audisi. Mereka bahkan mendirikan tenda untuk menginap.

“PERSATUAN JOMBLO-JOMBLO MEMAKLUMI NASIB NAMUN TETAP USAHA DI SAAT ADA KESEMPATAN AGAK BAIK, LUMAYAN BAIK, CUKUP BAIK, BAIK, SANGAT BAIK, DAN AMAT SANGAT BAIK. (PerJJMNTUDSAKABLBCBBSBDASB)”

Sebuah spanduk besar dengan tulisan barusan terpampang di sebuah tenda yang diisi banyak lelaki muda dan paruh baya. Dari posisi paling dekat gerbang, merekalah yang kemungkinan akan audisi lebih dulu esok hari.

Dari balik jendela istana lantai tiga, yang tak lain ruang keluarga raja Evan yang berisi dengan sofa supernyaman dengan televisi flat 66 inci komplit dengan home theatre, Putri Deaurella tercengang dengan pemandangan di luar istana. Ada yang telah menyalakan api unggun, bermain gitar, mabuk-mabukan, dan bahkan ada yang duduk melingkar mendiskusikan rencana demo besar terhadap rencana kenaikan BBM.

“Ayah, ini maksudnya apa?”
“Supaya tak dibilang perjodohan, kau bisa melihat dari mereka, siapa yang pantas untukmu.”
“Ayah yakin cara ini akan berhasil?”
“Semoga saja. Ayah sih berharap ada pangeran dan warga kerajaan lain tersedot untuk ikut kompetisi ini. Hitung-hitung nambah devisa kerajaan…”

Puteri Deaurella kembali mematung di pinggir jendela. Audisi besok siang, namun antrian malam ini sudah teramat panjang. Ratusan laki-laki akan mencoba merebut perhatiannya esok.

“Tuan Puteri, alangkah baiknya istirahat sekarang. Esok akan sangat melelahkan.” Suara lembut seorang wanita membelai telinga puteri Deaurella. Bibi Mila. Pengasuh setia Deaurella sejak bayi. Suaminya, Paman Yudha adalah seorang pengembara yang berkelana ke pelosok dunia tanpa kenal lelah.

Puteri Deaurella mengangguk. Usai pamit kepada Raja Evan yang sedang asyik menonton film Titanic untuk yang ke-42 kali, Puteri Deaurella beranjak masuk ke kamarnya diikuti bibi Mila. Sejak ibu Puteri Deaurella mendapatkan beasiswa ke Belanda, bibi Mila yang menggantikan sementara sesuatu yang memerlukan perhatian dari sang puteri.

“Bi, apa sih yang membuat bibi Mila jatuh cinta pada paman?” tanya puteri Deaurella tiba-tiba di depan pintu kamarnya. Bibi Mila tersipu malu. Pipinya merekah seperti tomat dibelah-belah. Masa lalu berdesir di benaknya.

“Ah, malu, Tuan Puteri. Sudah, jangan bikin bibi galau. Ayo, tidur.”

Puteri Deaurella tersenyum memasuki kamar. Namun tiba-tiba ia tersandung kakinya sendiri dan kepalanya terbentur tiang-tiang tempat tidurnya. Lalu terkapar tak berdaya di lantai.

Puteri benar-benar tertidur nyenyak hingga ayam jantan berkokok di pagi harinya.

***(bersambung)

 
4 Comments

Posted by on March 26, 2012 in Parodi

 

Sajak dari Guntingan Rindu di Pukul Satu

: novera

di halaman buku yang kutandai dengan guntingan salju, ada kau, tengah menulisi rindu pada puisi.

sebuah kotak surat tumbuh di halaman rumahmu
seperti dandelion yang terbang lalu mendarat
jatuh lalu menangkaikan diri, berdiri tinggi-tinggi
seolah-olah langit hanya tersisa sekian senti
untuk digapai, dan segala bentuk mimpi
tinggal dipetik dan ditegakkan di atas laci

sesuatu tergeletak di kursi depan rumahmu
kau membukanya, menemukan setumpuk buku
terbungkus rahasia-rahasia, berpita aba-aba
dan angin dingin berbisik meminta kau membukanya
cemara meranggas diri, membiarkan burung-burung
merangkai-rajut bahtera

sebutir salju jatuh dari ujung kukumu
dan kau membungkuk, menjatuhkan buku dalam pelukan
rindu-rindu berserakan, sementara salju-salju
pada kukumu telah kau gunting mungil-mungil
seperti langkah kaki yang telah kaupijakkan
pada lembar-lembar malam

pun menemukanmu dalam sebuah musim
di mana dingin dan hangat membiarkan rindu
memerosoti diri, bermain-main di kepala
sisanya
berloncat-loncatan pada sudut terhangat
di dalam dada

==
malang, 19032012
andi wirambara

 
Leave a comment

Posted by on March 18, 2012 in Puisi

 

Andai Banci Patah Hati

Cyin…. Ahay!
Saban Malem kerjaan melambay
teng jam sepuluh nangkringin stadion Mantikey
hado..hado.. banyak lekong lebay
ngegosip dah ma eke ampe membley
aih.. Lebay

Kenalin, akika Indri
Hendra boo… kalo pagi
pengen banget ntar punya bini
paling najis dikhianati beibi
berminat? Yuk, mari….

ampyun.. eke sedih ampe bodong
curhat dong ama sitrong
senja tadi diputusin brondong
akika nangis ngumpet di kolong
makan juga ga ada nepsong

Ye.. jangan kira brondong ane laki
cewe bohay boo..nan seksi
akika macho nih, biar banci
Mangkenye yang naksir selepel Sandra Dewi

Tolongin.. eke ketauan yayang lagi mek-ap-an
pas pas asik ngoles gincu pelan-pelan
gampar ma damprat dah akika telan

eke sedih banget bo!
status eike kalengan jomblo
langsung loyo
padahal udah banyak-banyak makan combro
nggak nyambung? sirik deh lo..

ya udah
akika sebel dah!
besok-besok mau tobat
lagian saingan makin hebat
pada mulus, legit, montok-montok sehat
angkatan-angkatan lama, cabut yuk ah!

 
1 Comment

Posted by on March 12, 2012 in Puisi

 

Tags: ,

[TEASER] Evan Idol (parodi)

EVAN IDOL

Hanya di Kepulauan Minfi, bisa ditemui sebuah negara berbentuk kerajaan dengan kepala negara yang disebut “Presiden Raja”, dan istri sang Presiden Raja dipanggil dengan sebutan “Ratu Negara”. Kedengarannya serakah, namun begitulah adanya. Di kerajaan—atau barangkali Republik Kerajaan—ini memang sedikit berlebihan dalam hal apapun. Menggunakan sistem politik “Liberal Sosialita Otoriter Demokratis”, kerajaan ini benar-benar pintar dalam mendapat, mengolah, memanfaatkan, sekaligus memfoya-foyakan kekayaan kerajaan mereka. Hampir tidak ada warganya yang berkekurangan. Hanya bagaimanapun, kasta harta tampaknya berlaku di mana-mana. Misalnya, untuk keluarga yang harga toilet di rumahnya 2 miliar seringkali meremehkan orang yang toilet di rumahnya hanya seharga 300-999 juta saja. Dan untuk keluarga yang harga toiletnya 2 miliar, jika di rumahnya ada kalender yang nilai jualnya di bawah 1,3 miliar, itu adalah aib.

“Papa, itu kalender bergambar artis Korea idolaku, kenapa dibuang?”
“Harganya berapa?”
“825 juta…”
“Apa? Kamu mau bikin malu keluarga, hah?”
“Tak ada lagi yang lebih mahal, Papa!”
“Pokoknya sekali lagi kamu beli kalender di bawah 1,3 miliar, langsung papa bakar!”

Anak itu menangis. Sebagai seorang anak Pejabat Bangsawan, terkadang ia merasa kehidupannya amat pedih. Standar kehidupan terlampau tinggi. Padahal ia ingin sekali merasakan hidup sederhana. Beginilah sedikit potret bangsa yang juga dikenal memiliki kengerian dalam militernya. Konon, setiap Tentara Ksatria di sana pandai menggunakan sniper sambil berkuda.

Setiap indikator maju-tidaknya sebuah negara tentu akan melihat siapa pemimpinnya. Di utara gunung Musrum—gunung tertinggi di Kepulauan Minfi—terdapat sebuah istana yang dihuni oleh Presiden Raja beserta keluarganya. Evan, presiden raja dengan wibawa dan kecentilan yang penuh karisma, kealiman yang tak kalah apik dengan sifat mesumnya, juga kecerdikannya dalam mengelola kekuasaannya di Kepulauan Minfi dapat ragu dipastikan lagi. Hanya saja, istana sedang tidak sesentosa keadaan di luar. Selalu ada konflik di dalam keluarga. Termasuk kali ini, Presiden Raja Evan harus dipusingkan ulah Puteri semata wayangnya, Deaurellifa.

“Sampai kapanpun aku takkan menerima perjodohan, Ayah!”
“Ayah tak menjodohkanmu, Nak…”
“Lalu?”
“Entah, ayah hanya diberitahu kalau yang ayah lakukan itu pencomblangan.”
“Sama saja, Ayah!”
“Apanya yang sama? Kau tahu apa?”
“KBBI, Ayah, KBBI! Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, comblang berarti orang yang menghubungkan laki-laki dan perempuan dalam perjodohan atau percintaan, atau muncikari, jaruman.”
“Kau mengejek ayah?”
“Terserah!”

Deaurellifa meninggalkan ruangan Presiden Raja Evan. Membanting pintu, mengacak-acak perabotan kayu di selasar istana, dan melempari bingkai-bingkai foto yang sebenarnya iPad 4 yang ditempelkan di dinding istana.

Presiden Raja Evan memijat keningnya, lalu memanggil pelayannya. “Panggilkan penasehat kita.” Perintahnya agak lemas.

 
3 Comments

Posted by on January 24, 2012 in Parodi

 

Hobi, Kenangan, Lama

HOBI, KENANGAN, LAMA

Kupalingkan wajah. Tak jelas bagaimana menggambarkan suara itu. Entah merintih, mengerang, atau di telingaku lebih seperti auman singa. Hanya saja, yang mengeluarkan suara itu bukan singa, tapi kerbau. Dan aku seorang wanita yang merinding mendengar itu. Mendengarnya saja sudah ngeri, apalagi melihatnya.

Kalau perlu kujelaskan, yang tak ingin kulihat ini adalah prosesi menombak kerbau oleh sekelompok orang yang melakukan Tiwah. Sebuah ritual adat—pun ritual keagamaan—para masyarakat Dayak Ngaju. Tepatnya penganut agama Kaharingan. Perasaan merindingku meningkat saat kucoba kembali melihat kerbau itu. Tepat saat menoleh, tombak menghunus kerbau itu di paha sebelah kiri. Aku tercekat, perutku mendadak mual. Dari serangkaian ritual Tiwah, seharusnya aku melewati bagian ini.

Ini pertama kalinya aku menyaksikan Tiwah, padahal sudah tujuh tahun aku tinggal di rumpun Kalimantan Tengah ini. Dari kota Kuala Kapuas, Pulang Pisau, hingga menetap di Palangkaraya. Sebelum menikah tujuh tahun lalu, aku sebenarnya hobi berpergian. Ya, kau boleh menyebutku backpacker. Aku wanita pemberani? Bukan. Justru kulakukan itu karena aku seorang penakut. Tak percaya? Hanya bermodal rasa penasaranlah aku nekat memulai hobi traveling ini. Dan dasar takdir, dari hobi ini pula kutemui Arka, lelaki yang akhirnya mengikrarkan janji sehidup-semati denganku, lalu memboyongku pindah ke beberapa kota di Kalimantan Tengah. Tempat pekerjaan menugaskannya.

Kami bertemu sewaktu aku menanyakan perihal tempat wisata yang patutnya kukunjungi sewaktu di Lampung. Kami kebetulan berpapasan denganku di jalan. Sebuah momen manis-dramatis—yang sering buatku tersenyum sendiri kala mengingatnya kembali—terjadi. Hujan turun. Kami akhirnya berteduh di sebuah warung makan. Dan dengan ramahnya ia menawarkanku untuk makan sembari menanti hujan reda. Dari situ kami banyak mengobrol, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Lampung. Kami bertukar nomor handphone, saling berkomunikasi dan kian dekat. Ujungnya? Klasik, kami saling jatuh cinta. Hidup bersama.

***

Hari ini aku melakukan hobiku yang telah lama vakum karena menjadi ibu rumah tangga. Menjelajah. Kali ini menyaksikan ritual adat yang sudah lama kutahu, namun tak sempat kulihat secara langsung, yaitu pesta Tiwah. Sederhananya, Tiwah adalah ritual sarat agama untuk menyucikan arwah leluhur, orang tua, atau keluarga yang telah meninggal. Sebagai syarat agar lancar jalannya menuju surga.

Ah, andai dapat kuajak anak-anakku menyaksikan ritual unik ini juga…

“Maaf, Bu, permisi…”
“Ah, iya…”

Seorang lelaki yang sedikit lebih pendek dariku hendak melepaskan diri dari kerumunan orang yang menyaksikan ritual Tiwah. Entah kenapa, aku tak henti menatap lelaki yang berlalu barusan hingga hilang lagi di kerumunan di seberang tempat aku berdiri kini. Potongan rambutnya, mirip sekali dengan Arka. Ah, andai Arka juga di sini… tidak! Ini adalah hari yang seharusnya penuh kumanfaatkan untuk mengenang masa-masa kesukaanku berjalan-jalan dulu.

Aku tak mau terganggu oleh lamunan-lamunan. Aku tak mau dulu memasukkan kegalauan ke pikiranku hari ini. Arka, juga anak-anak. Aku tak mau menitikkan air mata di tempat ini.

Ha, ha, ha. Sepertinya terlambat, ya? Tetesan kecil air berbaring di ujung sepatuku.

***

Matahari sudah tak lagi seolah berada di posisi tombak yang tegak.

Aku telah melihat hampir seluruh prosesinya. Dan yang cukup membuatku bergidik, adalah saat kuburan leluhur keluarga yang melakukan Tiwah digali kembali, mungkin usia kuburan itu sekitar 20 tahun. Bisa ditebak bahwa yang ditemukan adalah tulang-belulang. Belum selesai, tulang-tulang itu lalu dicuci dan dibersihkan. Dengan kain, mereka menggosok tulang hasta yang panjang, rusuk, hingga tengkorak. Inilah yang dimaksud menyucikan. Semua dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam Sandung—tempat penyimpanan tulang-tulang yang berbentuk seperti rumah dengan tiang yang menyangga. Dan karena biasanya diberi ukiran-ukiran yang cantik, kau bisa mengira itu miniatur rumah Suku Dayak tanpa menyangka di dalamnya tidaklah kosong, melainkan berisi tulang kerangka yang telah disucikan melalui Tiwah.

Sepertinya sudah cukup. Aku sudah mengambil banyak foto dari ritual adat ini. Aku pun berhasil menahan air mataku agar tak lagi turun. Hanya setetes yang berhasil lolos. Aku wanita yang tegar, bukan? Setelah ini aku akan pulang, memeluk anak-anak, mengecup pipi Arka, memasukkan foto-foto ini ke laptop, dan bercerita panjang lebar tentang pengalamanku hari ini dengan seduhan teh dan kue bolu yang turut memaniskan hangat ruang keluarga.

Bersama rombongan wisatawan lain, aku memasuki mobil untuk kembali ke Palangkaraya. Ah, aku lupa memberitahu bahwa Tiwah yang sedang kusaksikan bukan di Palangkaraya, tapi di daerah Katingan, kabupaten yang hanya berjarak kurang lebih 88 kilometer dari Palangkaraya. Posisi duduk sudah pas, tepat di samping jendela, aku melemparkan pandangan ke deretan pohon-pohon yang tegak berdiri.

Tampaknya seluruh penumpang sudah masuk. Mesin mobil dinyalakan. Dengan wajah datar kutengok handphoneku dan membaca sebuah SMS.

“Mama sang petualang, maaf ya kalau adek sama papa nggak di rumah waktu mama pulang dari pasar. Adek diajak berpetualang sama papa! Siapa tahu bisa jadi kayak mama.”

Bibirku bergerak tak jelas, kurasakan air mulai hadir di pelupuk mataku. SMS yang dikirim anakku dari ponsel ayahnya itu tak pernah lagi ada lanjutannya. Dan kupastikan hari ini aku akan kembali mendapat sambutan mereka memelukku saat membuka pintu, lalu mengecup pipi. Seperti yang biasa kami lakukan sebelum SMS itu hadir tiga bulan lalu. Meski hanya dalam bayang-bayang

Bagai air di daun talas. Air mataku membulat begitu saja di layar handphoneku.

(***)

Andi Wirambara ( @baracoedaz)

 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2012 in cerpen

 

Tags: ,

DONGENG SESUDAH TIDUR : HUGO

Konon, pada zaman dahulu kala, alkisah, di sebuah antah berantah, ada sebuah kerajaan yang megah. Rajanya makmur, rakyatnya jujur dan adil sehingga kehidupan kerajaan berjalan begitu baik dan selaras. Program kerajaan yang teratur, pejabat yang benar-benar mengutamakan rakyat, anggaran sesuai dengan manfaat, suksesnya program KB, lalu keadaan lalu lintas yang lancar, koordinasi seimbang antara kerajaan pusat dan daerah, serta maksimalnya pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia lokal yang unggul membuat kerajaan ini bikin iri sebuah negara kepulauan nun jauh di sana.

Di sudut jalan ibukota kerajaan, seorang pengamen sedang duduk bersandar di tembok luar sebuah toko sambil memainkan harmonika yang baru ia beli dari eBay.

“Hugo! Berhentilah main lagu itu! Aku tak suka!” Kata Joseph, pemilik toko yang dindingnya disandari oleh pengamen itu.

“Baiklah, kau mau lagu apa? Aku fleksibel.”

“Coba mainkan lagu yang lebih elegan, Mozart atau Beethoven.”

“Mozart? Beethoven? Bukannya mereka belum lahir?”

“Betul juga. Jadi, apa baiknya?”

“Melinda?”

“Cinta Satu Malam itu? Mainkan sob!”

Siang yang mendung itu terasa damai dengan alunan harmonika Hugo, angin semilir tercium di sela-sela nada yang mengalun. Wangi pepohonan yang terjejer rapi, wangi rumput, wangi roti bakar toko sebelah, wangi parfum dari toko sebelah yang lain, wangi uang yang dijatuhi ke kaleng di depan Hugo, wangi kotoran kuda.. ah.. Beginilah akibat transportasi jalan yang masih mengandalkan kereta kuda dan beberapa pemilik kereta kadang bandel, kuda mereka ada yang tidak lulus uji emisi. Tapi sigapnya hukum di kerajaan ini membuat hal tersebut bisa diantisipasi secepatnya dengan razia dan pembinaan mental bagi para kusir dan kuda-kudanya.

Orang yang mengelilingi Hugo bertepuk tangan, melemparkan uang receh dan kertas, ada yang memberikan cek, anak-anak kecil memberi celengannya yang belum dipecahi. Memang, sejak Klantink juara di ajang pencarian bakat, para pengamen sangat diperhitungkan masyarakat layaknya cerpenis ataupun penulis yang karyanya dimuat di koran-koran dan bukunya menjadi best seller.

Hugo menyudahi lagunya, ia tersenyum kepada para penontonnya, dan satu per satu penonton membubarkan diri. Kecuali lima orang perempuan cantik yang masih bertahan. Hugo memang tampan dan memukau, ia berbakat dan pintar, tak heran ia punya banyak penggemar perempuan.

“Mas Hugo, boleh minta nomornya nggak?” Tanya seorang perempuan itu.

“Em..nomor apa ya?” Hugo balik bertanya.

“Nomor dong mas.. biar kita bisa surat-suratan.”

“Oh, tapi aku nggak punya telepon. Mahal.”

“Ya sudah, mana burungnya mas Hugo? Keluarin dulu coba.” Jawab perempuan itu.

“Burung?”

“Iya…” Perempuan itu mengedipkan mata.

“Oh…oke…” Hugo lalu berdiri dan memegang ikat pinggangnya, lalu mengambil sebuah kantung yang digantung di sana, kantung berlubang-lubang kecil. Hugo mengambil seekor burung merpati dari dalamnya.

“Ini, tulis saja alamatmu,” Hugo menyerahkan burung merpatinya kepada perempuan itu. Perempuan itu lalu menuliskan sebuah alamat di salah satu bulu merpati milik Hugo. Sudah hampir setengah tubuh merpati itu terisi oleh alamat-alamat.

“Tulis juga alamatmu ya mas Hugo,” Ujar perempuan tadi sambil memanggil burung elangnya yang hampir penuh oleh alamat-alamat.

Di kerajaan ini, menggunakan burung adalah komunikasi paling penting. Telepon hanya digunakan raja, pejabat, bangsawan dan orang-orang kaya. Masyarakat lebih memilih memakai jasa burung. Tidak hanya merpati, hampir semua jenis burung bisa digunakan. Harga mereka berbeda-beda dan biaya yang dikeluarkan hanya berupa pakan burung. Tapi burung-burung juga punya intuisi bisnis yang tajam, sehingga pemilik burung juga perlu memikirkan anggaran untuk penggunaan burung.

Hugo misalnya, dia punya merpati dan termasuk burung jenis paling murah di atas burung gereja dan anak ayam. Karena itu untuk menyampaikan pesan lebih lambat sampai dibanding burung yang lebih mahal seperti elang atau camar. Dan merpati itu bakal menuntut makanan lebih banyak jika disuruh mengantarkan pesan ke pemilik burung jenis lain semisal dari pemilik merpati ke pemilik elang, atau ke pemilik nuri. Beda operator katanya.

Jenis burung juga menentukan jenis pesan yang diantar. Seorang yang jatuh cinta rela merogoh kocek lebih demi membeli Cendrawasih yang cantik untuk mengantarkan surat cintanya kepada orang yang disukai, atau burung hantu untuk mengantar surat peringatan, dan ada pihak dengan tujuan kejahatan mengirimkan surat ancaman menggunakan burung gagak. Para polisi kerajaan menggunakan beo dan kakatua sebagai penyadap, dan burung nazar sebagai pelacak sekaligus pemburu.

***

Ada 200 notifikasi di sofa lubang-lubang milik Hugo, lebih tepatnya 200 lembar surat. Kebanyakan dari perempuan. Dan itu dalam sehari, kadang ia sulit membalas semuanya karena selain mengeluarkan banyak makanan burung, dia juga lelah. Meskipun di antara penggemarnya ada yang sampai mengirim uang untuk isi pakan burung. Meski alasan paling benar untuk Hugo adalah hatinya yang terpaut oleh putri raja.

“Jangan mimpi boi! Tuan putri dengan kau itu jauh sekali bedanya. Bagaikan Upin dan Ipin!” seru Joseph pertama kali tahu Hugo menyukai putri.

“Terserahlah, aku sudah jatuh cinta padanya. Sejak pandangan pertama! Bayangkan!”

Hugo mengulang-ulang ingatannya saat pertama kali bertemu putri raja. Saat masa kampanye, raja yang masih calon raja melakukan kampanye turun ke jalan, menyapa setiap masyarakat, dan putri tunggalnya, Aurella, diajak berkeliling. Hugo yang sedang memainkan harmonika di depan toko, memainkan harmonka seperti biasanya, penuh penghayatan, sambil menutup mata.

“Cring..cring..” Suara gemerincing jatuh ke kaleng milik Hugo. Hugo membuka matanya dan takjub melihat jemari yang begitu lentik, gaun hitam yang anggun. Dan ketika mendongak ke atas, sang putri sudah jauh berlalu dengan skateboardnya. Sejak saat itulah, Hugo langsung jatuh cinta.

Seekor burung berwajah kancil tiba-tiba masuk dari jendela Hugo dan menjatuhkan sebuah surat. Hugo membuka dan membacanya.
“Kalau pesan ini sampai, kirimin mama duit ya.. Kirimin ke alamat di bawah surat ini, mama lagi pinjem burung punya temen mama. –mama-“

Hugo membuang surat tersebut, pasti itu penipuan. Tiba-tiba datang lagi seekor rajawali gagah dengan kalung kecil berlogo kerajaan dan berhologram menjatuhkan surat. Segera saja Hugo membacanya.

“Sayembara! Di sini gunung di sana gunung. Di tengah-tengahnya pulau Jawa. Bagi warga kerajaan yang merasa punya bakat di bidang musik ataupun tarik suara, individu atau berkelompok, berpenampilan menarik, baik hati dan tidak sombong. Ikut yuk! Audisi musisi kerajaan, yang akan diadakan pada:

Tanggal : Besok
Pukul : Dari pagi
Lokasi : Gedung di sono noh..
Fasilitas: 1. Sertifikat, 2.Konsumsi, 3.Stiker kerajaan

Tiada kesan tanpa kehadiran kalian. Salam. Kerajaan”

Hugo menahan napasnya (sedikit menahan kentut). Pucuk dicinta ulam pun tiba, ia mendapat jalan untuk mendekati tuan putri. Hugo mengucap syukur dan berpikir betapa baiknya penulis cerita ini membuat jalan untuknya mendekati sang putri.

***

Sepanjang malam Hugo tidak tidur, dia benar-benar berlatih dan mencari referensi musik yang akan dimainkannya besok. Ia membuka youtube, chatting dengan temannya, kadang curhat pada langit kala ia memainkan harmonikanya sambil berbaring, curhat pada merpatinya. Hugo tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, ia akan tampil maksimal agar putri Aurella bisa terpikat dengannya.

Hari yang dinanti tiba. Hugo bangun pagi sekali, menyapu rumah, mencuci baju dan membuka situs astrologi untuk melihat peruntungan zodiaknya hari ini. Hugo mengenakan baju terbaiknya, berkaca lebih dari tiga puluh menit, dan mendehem-dehemkan tenggorokannya agar tak gugup.

Perjalanan ke kastil kerajaan di puncak bukit tidak terlalu jauh. Sesampainya di istana, peserta sudah memenuhi lapangan kastil. Hugo memperhatikan peserta lainnya, pemain biola, kecapi, harpa, dan beberapa kelompok sedang berlatih bersama, perkusi, grup vokal, dan banyak lagi.

“Kau pemain harmonika?” Seseorang memegang pundak Hugo dari belakang.

“I..iya..”

“Aku pernah melihatmu waktu di kota, sepertinya kau lawan berat.”

“Kau pemain harmonika juga?”

“Bukan, aku pemain gitar.”

Hugo menoleh ke belakang, melihat seorang yang penampilannya nyentrik, dan memberi kesan misterius.

“Namaku Slash, kita bersaing ya,” Ujar orang itu memperkenalkan diri. Lalu pergi menyapa peserta lain, Cherrybelle, seolah-olah mengintimidasi semua peserta. Hugo menahan napas, saingannya benar-benar berat.

Audisi dimulai, beberapa peserta tampil langsung di depan raja dan putrinya. Ya, putri Aurella! Hugo tak memperhatikan mereka yang tampil, pandangannya tak bergeming dari Aurella yang begitu mempesona. Hugo bingung mengapa setiap putri raja pasti cantik, seperti apapun rupa sang raja ataupun permaisurinya.

“Cukup! Jelek sekali! Aku tak suka! Celupkan dia ke lumpur!” Bentak raja mendadak menghentikan penampilan seorang pemain gendang. Tak lama, muncul pengawal kerajaan dan langsung membawa peserta itu keluar istana lalu dilemparkan ke dalam lumpur yang kotor dan bau. Seluruh peserta terkejut, tak terkecuali Hugo. Di antara mereka ada yang mencoba protes, raja tetap tenang.

“Kalian tidak baca ketentuan khusus?” Tanya raja sambil menunjuk bagian kanan bawah kertas sayembara. Semua langsung membacanya, tulisan sangat kecil, bahkan dikira noda bekas fotocopy. Tertulis di sana: RAJA TAK PUAS, RESIKO TANGGUNG SENDIRI!

Peserta yang lemah mentalnya langsung mengundurkan diri, sisanya yang percaya diri tetap melanjutkan karena merasa saingan berkurang. Hugo mantap dengan keputusannya untuk terus maju. Acara akhirnya dilanjutkan, meski tetap banyak yang berguguran.

“Musiknya tidak sesuai dengan seleraku! Pengawal! Pulangkan dia pakai meriam istana!”

“Ah! Katamu kau rocker, kenapa musikmu banci begitu? Pengawal! Ikat dia ke pohon di Taman Lawang selama dua malam!”

Tibalah giliran Hugo. Hugo memainkan harmonikanya dengan elegan, memainkannya dengan sangat lembut, tapi lantang. Putri Aurella nampak terpana, raja mengangguk-angguk sambil memutar-mutar jari tunjuknya.

“Nak, kau lolos ke final.”

***

Hugo benar-benar gugup sekarang, final menyisakan dua kontestan. Penjurian kian ketat, ditambah senyum putri Aurella yang memikat.

“Siapa lawanmu, boi?” Tanya Joseph yang tiba-tiba muncul.

“Zivilia.”

“Oh boi, aishiteru itu?”

Hugo hanya mengangguk, grup band saingannya itu baru selesai menyanyikan lagu dan mendapat penilaian sangat baik dari para juri. Dan jantung Hugo makin berdebar kencang seperti gendering mau perang. Ketika ia melangkah ke depan raja yang duduk di singgasananya.

“Oke, Hugo. Di sebelah kiri ada kamera, di sana juga kamera, jadi kalau menyerah atau tidak kuat, tinggal melambai ke arah kami.” Seorang staf kerajaan menjelaskan sebelum Hugo memulai permainannya.

Harmonika sudah menempel di bibirnya, pelan menarik nafas, hembus nafas lembut terhembus ke lubang-lubang harmonika 4GB yang terisi 200 instrumen lagu buatannya sendiri. Meski begitu, Hugo tidak akan lipsing karena harmonika adalah jiwa jika baginya. Nada mulai keluar, kepiawan Hugo tak diragukan. Semua yang mendengar seolah diajak untuk menghayati. Nuansa jazz, alunan pop, hentakan black metal, punk, dan bumbu keroncong serta nikmatnya campuran dangdut membuat ruang istana begitu syahdu. Ditutup dengan sebuah nada panjang, semua bertepuk tangan atas keindahan nada harmonika Hugo.

Tibalah saat pengumuman.

***

Di dinding luar istana, seorang laki-laki bersandar menatapi harmonikanya. Wajahnya murung, begitupun ekspresi merpati di pundaknya. Ia kecewa, di saat terakhir justru gagal.

“Dan yang terpilih sebagai musisi kerajaan adalah….. ZIVILIA! Alasannya sederhana, hanya saya selaku raja dan penulis dongeng ini yang tahu. TAK BOLEH GANGGU GUGAT!”

Terngiang sekali betapa kata-kata itu, ia malu di hadapan putri Aurella. Pupuslah harapannya bekerja di istana dan dekat dengan Putri.

“Cowok..” Suara perempuan membuyar lamunan Hugo. Ia menoleh kanan dan kiri, tidak ada siapapun.

“Di atas, aku di atas..” Hugo mendongak. Di atas dinding kastil yang ia sandari, ada sebuah lubang yang ternyata jendela kamar putri Aurella! Putri Aurella tersenyum. “Mainin satu lagu dong..” Pinta Putri. Hugo mengangguk. Ia menginjak sebuah batu persegi yang lebar, berdiri di sana dan mulai mengalunkan lagu dari harmonikanya.

Malam berlalu, suasana malam hanyut bersama nada harmonika Hugo. Pijakan Hugo juga seolah ikut terhanyut, pelan-pelan retak, sedikit demi sedikit berlubang, masih tertulis di sana. SEPTIC TANK ISTANA.

Tak lama, malam tiba-tiba menjadi sunyi. Dan bulan menjadi saksi, keretakan yang berujung sunyi.

 
Leave a comment

Posted by on January 19, 2012 in Parodi

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 889 other followers