RSS

KALEIDOSKOP ABAD 22

Tahun 2015 Masehi akan berganti menjadi tahun 2016. Tahun ini menjadi tahun yang penuh dengan persaingan untuk menjadi yang ter-update: paling lebih dulu menemukan tempat baru, sesuatu yang baru, ikut-ikutan apa-apa yang baru-baru.

Berhubungan hal tersebut, saya memutuskan tidak membuat kaleidoskop tahun 2015 karena pasti banyak yang membahasnya. Itu tentu bertentangan prinsip tren manusia update. Lagipula kaleidoskop hanya menampilkan apa yang sudah menjadi masa lalu. Dua kata yang cukup horor bagi remaja kekinian.

Karena alasan itulah saya membuat kaleidoskop tahun 2265 ini. Mari kita lihat apa yang terjadi 2 abad ke depan.

**
– 03 Januari 2235
Ditemukan pada tahun 2015, planet mirip bumi yang kemudian diberi nama ‘Planet Kepo’ (dinamai oleh seorang ilmuwan antariksa asal Indonesia, diambil dari istilah remaja Indonesia 2 abad silam yang mengandung makna ‘Segalanya berasal dari rasa penasaran’) pada tahun 2186, kini resmi dibuka untuk umum. Penelitian dan pemantapan fasilitas selama 200 tahun membuat planet ini dinyatakan aman untuk dikunjungi. Memakai transportasi PKBTLH (Pesawat Kapsul Bisa Tembus Lubang Hitam), warga Bumi bisa berwisata ke Planet ini dalam waktu singkat.

– 7 Februari 2239
Setelah bersabar selama 4 tahun, Indonesia akhirnya lulus untuk mendapat kuota kunjungan ke Planet Kepo. Seorang mahasiswa asal Yogyakarta berkesempatan menjadi remaja Indonesia pertama yang menginjakkan kakinya di sana. Ia mengabadikan sejarah tersebut dalam foto berlatar belakang hamparan tumbuhan yang pernah hidup di bumi pada zaman Kenozoikum pada jejaring sosialnya. Dua minggu kemudian, 14 Februari 2239 berbondong-bondong remaja Indonesia datang ke sana. Namun situasi menjadi tidak terkendali sejak banyak dari mereka mulai berfoto-foto selfie sambil menginjak tumbuhan purba tersebut hingga rusak dan mati. Dalam sekejap, tumbuhan malang itu dinyatakan terancam punah.

Buntut kejadian tersebut, Anggota Dewan Aliansi Kerukunan Jagat Raya dikabarkan menyiapkan sederet sanksi untuk Indonesia. Mulai dari semakin diperketatnya pemeriksaan mental dan kejiwaan pengunjung asal Indonesia, sanksi pengurangan kuota, hingga blacklist.

– 22 April 2248
Produsen ‘geniusphone” ternama, Avocaddo, melayangkan gugatan terhadap perusahaan digital saingannya, Semss. Semss dinilai meniru teknologi canggih Holo-telepresence pertama yang ditanamkan ke dalam ponsel seperti milik Avocaddo. Bahkan perusahaan berlogo buah alpukat dikunyah ini juga sudah menyiapkan jumlah tuntutan ganti rugi yang sangat besar terhadap Semss. Berita ini mengundang reaksi yang ramai di dunia maya. Mereka yang membela Semss justru mengatakan bahwa pihak Avocaddo terlalu berlebihan dan pelit fitur, karena Semss dinilai menyajikan fitur lebih canggih. “Dari geniusphone merek Semss, kita bisa ngobrol dengan hologram orang yang kita hubungi bahkan bau kentutnya pun bisa tercium meski lawan bicara sebenarnya berada di benua yang berbeda sekalipun!” Komentar Bagustyen, seorang netizen.

– 07 Mei 2252
Pada 2 Juli 2252, tim nasional sepak bola Indonesia terpaksa mengubur mimpinya untuk tampil di Piala Dunia 2255 setelah kalah adu penalti 1-0 melawan tim nasional Australia usai melakukan pertandingan melelahkan 2 kali 45 menit yang berakhir dengan skor 8-8 pada kualifikasi Piala Dunia regional Asia-Oceania. Publik kemudian menyalahkan PSSI yang saat diketuai oleh N’din H’lid. Perlu diketahui, usai dibekukan selama sekitar seratus tahun, PSSI “dicairkan” pada tahun 2116 dan N’din H’lid tiba-tiba masuk menjadi ketua umum dan sulit sekali dilengserkan dari jabatannya meskipun berkali-kali sepak bola Indonesia kering prestasi. Komunitas Peduli Prestasi Bangsa (KOPER BANGSA) melakukan penelitian mendalam dan menemukan penyebab sulit dilengserkannya N’din H’lid adalah akibat kekuatan gelang canggih “Powa Balance” yang selalu ia pakai.

Seorang anggota KOPER BANGSA nekat menerobos Ring 1 Ketua Umum PSSI dan berhasil melompat untuk memutuskan gelang tersebut dari pergelangan tangan N’din H’lid. Penggemar sepak bola Indonesia menyambut gembira karena akhirnya akan memiliki ketua umum baru setelah seratus tahun. Salah satu yang kemudian dengan percaya diri mengajukan diri sebagai ketua umum adalah pengusaha populer, L’Nyell.

– 25 Juli 2261
Bumi memilih Pemimpin Tertinggi pertamanya sejak terjun ke lingkungan sosial antarplanet dengan penghuni planet luar Bumi. Tugas utama Pemimpin Tertinggi Bumi ini sebenarnya lebih pada menjalin persahabatan dengan planet lain dan mengampenyakan “Anti penculikan Mesin Cuci”. Tercatat sudah 2.322.388 kali terjadi penculikan mesin cuci di Bumi dalam 23 tahun cahaya terakhir. Beberapa planet memang dihuni oleh mahkluk-mahkluk yang memiliki ketertarikan seksual tinggi terhadap mesin cuci di Bumi.

Pada pemilihan yang dilakukan serentak di penjuru dunia, 2 calon terkuat berasal dari Kolombia dan Filipina. Panitia mengumumkan calon asal Kolombia memenangkan pemilu, namun mendadak diralat karena salah lihat. Maka calon asal Filipina tersebut menjadi Pemimpin Tertinggi Bumi untuk 9 tahun ke depan.

– 04 Agustus 2269
Indonesia bersiap memiliki presiden baru. Setelah begitu banyak nama bermunculan, pada hari ini resmi diumumkan bahwa pemilihan presiden baru Indonesia akan menghadirkan 2 pasang calon. Keduanya memiliki basis pendukung yang kuat. Keduanya pula dianggap kesatria dalam ramalan. Meski memang setiap pemilu, para calon selalu dianggap kesatria oleh pendukungnya. Indonesia selalu dianggap dalam bahaya dan seseorang versi masing-masing akan menyelamatkan. Sementara negeri ini masih baik-baik saja hingga hari ini.

– 29 September 2270
Presiden Indonesia baru yang belum setahun menjabat, diberitakan akan membeli sebuah sapu terbang VIP canggih buatan negara dari Eropa. Sapu Terbang canggih memang diperlukan untuk memudahkan akses perjalanan yang lincah dan cepat mengingat lalu lintas darat dan udara Indonesia yang seringkali macet. Sapu terbang VIP ini memiliki tempat duduk dan dudukan kaki yang nyaman serta atap transparan ber-AC otomatis yang melindungi dari panas dan hujan.

Masyarakat media sosial banyak yang melemparkan komentar negatif dengan menganggap presiden terlalu manja dan tak merakyat karena membeli fasilitas mahal untuk kepentingan pribadi. Presiden merespons kritik tersebut dengan urung membeli sapu terbang VIP untuk dialihkan menjadi lusinan sapu terbang yang akan dibagikan kepada atlet Quidditch Nasional. Netizen kembali melayangkan kritik dengan mengatakan presiden terlalu boros mengurusi tim olahraga yang baru berumur 5 tahun dan belum punya prestasi apapun. Presiden akhirnya mengambil keputusan yang lebih luas dirasakan publik: akan membeli ratusan unit sapu terbang canggih sebagai alat transportasi massal. Lagi-lagi netizen menghujatnya, kali ini presiden dianggap antek penyihir karena ngotot beli sapu terbang.

– 18 Desember 2286
Seorang yang menyebut dirinya pakar kritik Bumi, mencurigai adanya peristiwa kotor yang melibatkan anak dari Pemimpin Tertinggi planet Kx22I-H yang baru beberapa bulan melangsungkan pernikahan, tapi pasangannya sudah mengandung lebih lama dari hitungan normal. Sang Pemimpin Tertinggi Kx22I-H menanggapinya santai dengan mengatakan orang Bumi tersebut asal bicara dengan referensi minim.

“Sesempit apa sih, Bumi sampai-sampai ada yang begitu kurang kerjaan mengurusi kehidupan mahkluk yang hidup di jarak 4200 tahun cahaya dari planetnya?” cetus Sang Pemimpin disambut tawa para wartawan. Hal tersebut diluruskan oleh pakar Ilmu Reproduksi Galaksi kenamaan Bumi, yang mengatakan di Planet tersebut para mahkluknya sudah bisa mengalami pembuahan secara tidak kasat mata tepat ketika lamaran dilangsungkan. Meskipun pernikahan baru diadakan 5 bulan setelah itu.

————–
Sekian kilasan singkat dari saya. Beberapa bulan memang tidak saya tulis karena keterbatasan ongkos bahan bakar mesin waktu. Salam, selamat Tahun Baru 2016!

Andi Wirambara.

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2015 in Acak, Uncategorized

 

Tags: ,

Kauakusuka-Akusukakau

aku kau aku suka
suka kau kusuka kau
suka aku kaus kau
kaus suka susu kau
aku suka kau
aku
susuk saja kau!

(mengertilah, aku
tak ingin lebih gila
dari gilaku yang kau
tahu sudah)

ah, Tuhan
aku suka dia
dia suka aku tidak?
aku dia suka sudi
suka dia aku duka

oh, duka?
tak!

==
Malang, 19102010
Andi M E Wirambara

 
Leave a comment

Posted by on June 19, 2014 in Puisi

 

Tentang Pagi dan Pesan Singkatmu

Rindu mampu membuat seorang memandangi gagang pintu
dan berharap gagang itu berdering.

Maka
biarkan pada pagi ini
kulayangkan rindu
dengan segala
kerendahan hati.

Kupikir salamku telah hinggap di jendelamu. Begitu lekat, sebagai embun yang enggan menguap. Padahal sebabnya sederhana saja, seperti aku yang ingin menjejaki waktu secara biasa: misalnya bangun dan mencuci muka. Berjalan, tak acuhkan luka. Namun sapaanmu di pesan singkat, menyisakan gaung yang betapa panjang. Seperti hangat pada lengan-lengan yang memberi pelukan. Seperti tawa kanak yang menunggang komidi putar. Atau seperti kelip lampu sepanjang penutupan festival.

My yearning is as the balloons set free for festivities.
Casting shadows on each good bye, shrinking, disappearing in the sky*)

Barangkali sekarang terlalu pagi untuk merayakan rindu,
namun belum terlalu senja untuk melanjutkan detak
mencintaimu, bukan?

Sejak mencintaimu, warna daun tetap pada musimnya
salju tetap turun di peluk masing-masing cuaca
dan rinduku tetap kau.
ya,
rinduku yang biru, dan hatimu merah muda
Jadi mari kita suapi pagi dan pelangi
dengan warna-warna.

====
Malang, 20062013
Andi Wirambara

*)terima kasih untuk @therendra menerjemahkan sajak kecilku ke dalam bahasa Inggris

 
Leave a comment

Posted by on June 18, 2014 in Puisi

 

GADIS YANG MENEMPEL DI DINDING

Yadi menemui tengah malam paling mengejutkan, sekaligus mengherankan dalam hidupnya. Perutnya yang memang punya kebiasaan lapar tengah malam, kembali membangunkannya yang baru tidur dua jam sebelumnya. Hanya, baru saja ia mengumpulkan nyawa dan memasang kacamata, ia langsung dikejutkan dengan sesuatu yang menempel di dinding kamarnya. Tak masalah jika itu cecak, kecoa, atau serangga lainnya. Tapi ini perempuan!

Siapa dia? Kuntilanak? Potongan nyawa Yadi yang belum pulang? Dewi Fortuna? Spidergirl? Personil girlband yang sedang mabuk lalu tersesat dan tak tahu arah jalan pulang? Atau Limbad yang sedang bereksperimen? Perempuan ini memakai pakaian serba putih kusam dan rambut yang tergerai begitu panjang. Memang, sebelum tidur, Yadi berdoa agar hari esok menjadi lebih baik dari hari sekarang, juga berdoa agar dia cepat dapat pacar agar tidak diolok teman-temannya. Apakah perempuan ini jawaban atas doa minta pacar Yadi? Tapi kenapa harus hantu? Menempel di dinding pula!

Yadi mencopot kacamata, menggosok mata, memasang kacamatanya kembali, namun perempuan itu tetap menempel di dinding. Benar, menempel seperti cecak, tepat di poster bergambar Cristiano Ronaldo milik Yadi, seolah-olah tengah memeluk orang dalam poster itu.
Kuntilanak genit.

Namun jangankan membaca doa untuk mengusir hantu, tanpa sadar Yadi justru bernyanyi dengan suara paraunya yang sebenarnya masih mengantuk sambil bertepuk tangan pelan.

Kuntilanak, kuntilanak di dinding
Diam-diam merayap..

Seperti merasa dirinya dipanggil, perempuan itu tiba-tiba menoleh dan menatap Yadi. Seketika Yadi terdiam. Bergidik. Akhirnya ia bisa melihat wajah perempuan itu. Ehm, ternyata cantik. Tapi wajahnya pucat sekali, tambah pula tatapan matanya yang tajam seperti ujung bulu ketiak membuat Yadi hanya bisa gemetar dan menelan ludah. Gawat, pikir Yadi. Apakah kuntilanak tadi tersinggung? Marah? Ngambek? Cari perhatian? Dalam keadaan seperti ini, Yadi malah menyesali kenapa harus perempuan seram ini yang menempel di dinding kamarnya? Bukan Emma Watson, Julia Robert, Raisa, atau Justin Bieb… eh maksudnya atau Yoona personil SNSD yang seksi itu? Kalau itu Yadi tentu tak merasa keberatan, bahkan mungkin ia akan ikut-ikutan menempel di dinding kamarnya sendiri.

“Kau penghuni baru kamar ini?”

Perempuan itu tiba-tiba bertanya pada Yadi masih dengan posisi menempel di poster sambil tangannya mengusap-usap wajah Cristiano Ronaldo di poster itu. Yadi gemetar. Jangankan berteriak, mengeluarkan suara saja sulit. Suaranya seolah terbang entah ke mana. Ketakutan juga barangkali.

“I-i-i-i.. iya…” akhirnya Yadi bisa mengeluarkan suaranya. Ia tak menyangka malam pertama di kos barunya ini, menemui pengalaman seperti ini.

***

Yadi, mahasiswa semester tiga UGM yang juga seorang perantau dari sebuah kota di Pulau Kalimantan, menyatakan kebosanannya pada kos lama yang sudah menampungnya selama setahun lebih. Kepada pemilik kosnya ia mengaku ingin melakukan penyegaran suasana. Menghindari kejenuhan seiring makin banyaknya tugas-tugas kuliah. Meski alasan sebenarnya adalah Yadi malu karena pernyataan cintanya pada Fina, gadis yang tinggal di sebelah kosnya, ditolak mentah-mentah. Yadi tak tahan karena mereka bertemu—tepatnya berpapasan—setiap hari. Yadi ingin menjauh dari Fina, ingin menyelamatkan wajahnya, menyembuhkan sakit hatinya. Tak ada lagi surat pesawat yang diterbangkan ke kamar Fina di lantai dua. tak ada lagi curi-curi pandang ketika Fani menjemur pakaian dan Yadi pura-pura menjemur celana dalam. Tak ada lagi cari perhatian saat Yadi bermain gitar sambil bernyanyi di beranda kosnya. Meski dibanding suara penyanyi, suara Yadi lebih seperti suara kucing yang tertelan komodo.

Maka pagi tadi, Yadi resmi menghuni kamar kos barunya yang masih di dekat kampusnya, UGM. Kesan pertama yang bagus karena siang harinya ia langsung berkenalan dengan penghuni kamar sebelahnya, Pandu. Sangat ramah! Bahkan ia tak segan menjelaskan seluk-beluk kos ini. Dari di mana letak dapur, jemuran, lubang untuk mengintip kos puteri sebelah, lokasi sembunyi dari ibu kos jika pembayaran nunggak, hingga tips berutang di warteg dekat sana jika tanggal tua telah tiba.

Namun hal yang tak dijelaskan Pandu pada Yadi, adalah apakah pernah terjadi hal-hal mistis pada kos ini. Khususnya kamar yang dihuninya. Yadi masih tak habis pikir kenapa tidur nyenyak pertamanya justru disambut oleh mahkluk halus. Dan yang paling ia terima, kenapa menempel di dinding? Bukankah itu merusak citra keseraman? Apa itu gara-gara poster Cristiano Ronaldo? Bagaimana jika diganti dengan poster Tukul Arwana? Meski begitu, Yadi tetap saja merasa takut dan bingung harus berbuat apa.

“Siapa kamu?” Tanya Yadi yang akhirnya bisa mengendalikan rasa takutnya.
“Panggil saja aku Dili, Sang Gadis yang Ingin Membalas Dendam.”
“Memangnya seberapa penting gelar Gadis bla bla bla itu? Kau mau jadi judul film?”
“Ah, terserah! Kau penghuni baru kamar ini, kan? Berarti kau harus menuruti permintaanku.” Lantang gadis yang akhirnya turun dan mendarat di lantai kamar Yadi. Karena pakaian yang menjulur panjang, Yadi tak bisa memastikan apa adis itu tak menyentuh tanah seperti cerita hantu pada umumnya.

“Apa? Permintaan katamu? Duh, siapapun kamu, mahkluk apapun kamu, aku lagi dalam posisi kurang mampu. Uang bulanan belum dikirim, tenaga baru terkuras karena aku baru pindah, apalagi kalau kamu minta aku jadi pacarku, maaf—”

“HAH? PACAR? Kamu ngaca dong! Biar hantu begini, seleraku tetap yang begitu.” Tunjuk Dili pada poster Cristiano Ronaldo yang ia peluk tadi. “Ganteng, macho, dibanding kamu… ah, buncit!”

Seperti baru saja dicium Mr Bean yang habis mengunyah sate buaya, Yadi terkejut tidak terkira. Kata “buncit” adalah kata paling sensitif untuk mantan idola sekolah seperti dirinya. Tubuhnya tak sekekar masa SMA, perutnya kini offside maju beberapa senti. Mentalnya pun ambruk.

“Cu-cukup mengatakan aku buncit. Sekarang, apa permintaanmu?”

“Aku ingin balas dendeng.”

“Dendeng?”

“Dendam maksudku..”

“Tunggu, dendam pada siapa?”

“Mantan pacarku, dulu dia menghuni kamar ini.”

“Maaf, tapi kenapa kaulibatkan aku dalam dendam pada mantanmu?”

“Dia… Hik..”

Tiba-tiba hantu gadis remaja itu tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Suaranya terdengar sedih. Melihat itu, Yadi mulai merasa iba.

“Ma-maaf, Dili. Apakah dia.. yang.. membunuhmu?” Tanya Yadi hati-hati.

Tangisan Dili semakin kencang. Dia hanya mengangguk berat. Tiba-tiba muncul rasa kesal Yadi pada laki-laki yang membuat Dili berakhir seperti ini.

“Pa-padahal dia sangat baik…” Parau Dili.
“Baik? Kau bilang dia baik? Bagaimana kau bisa mengatakan seperti itu?”
“Karena saat kejadian itu tiba, ia tetap memelukku.”
“Tunggu. Bukankah ia melakukan hal keji padamu?”
“Iya sih…”
“Jadi, kau diapakan olehnya?”
“Dia.. dia kelitikin aku… sampai mati…”
“…..”

Yadi benar-benar kehilangan kata-kata. Ia bingung harus melanjutkan ekspresi sedih dan emosinya, atau pergi ke kamar mandi lalu tertawa sampai kepalanya tercebur di lubang kloset.

“Karena itu, aku ingin balas kelitikin dia. Jadi, kau mau bantu?” Tanya Dili kembali.

“Maaf, aku tidak mau. Aku sibuk. Dan ngantuk” Yadi membantingkan tubuhnya ke tempat tidur. Lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

***

Menolak permintaan hantu rupanya bukan perkara gampang. Sepanjang malam Yadi terus dihantui oleh hantu yang sepertinya lupa kalau dia hantu (semacam hantuception). Gadis bernama Dili itu terus saja membisikkan kata “balas dendam.. balas dendam..” sampai pagi tiba. Ketika azan subuh berkumandang, gadis itu hilang, tapi cukup membuat Yadi pusing karena sulit tidur.

Akibatnya, kuliah Yadi terganggu. Suara dosen tak bisa ia dengarkan, di telinganya terus bergema “balas dendam… balas dendam…”. Ia sudah coba menutup telinganya kuat-kuat, menggelengkan kepala kuat-kuat, mengupil kuat-kuat, tetapi suara Dili tersebut tak juga lenyap dari pikirannya. Karena merasa sangat tertekan, Yadi akhirnya curhat dan melaporkan keluh kesahnya pada semut di dinding, pada kuda delman di sepanjang Malioboro, pada rel kereta api, pada patung yang ia temui di jalan. Terakhir, pada kucing yang datang saat ia makan siang di warteg. Tapi kucing itu keburu lari, dan hati Yadi kian hancur.

Fakta baru akhirnya didapat Yadi ketika Pandu bercerita tentang penampakan di kos itu.

“Benar, Di, nggak cuma kamarmu, kos ini juga sering ada penampakan.”
“Jadi, tempat ini angker?”
“Mau bilang angker nggak juga, sih. Nggak tega soalnya.”
“Lho, kenapa?”
“Dulu pernah ada pocong lewat selasar, pocongnya kepeleset, ada tuyul yang lupa jalan keluar, pernah ada perempuan nangis di pojok selasar, tapi nggak ada yang perhatiin.”
“Dan gadis misterius menempel di dinding kamarku?”
“Begitulah…”

Yadi benar-benar bingung pada kos dan keangkerannya yang miris ini. Tanpa terasa hari sudah gelap dan Yadi kembali ke kamarnya. Baru membuka pintu, Yadi kembali dikejutkan oleh sosok Dili yang sudah di kamarnya.

“Kau lagi!” kesal Yadi.
“Aku akan terus menghantuimu sampai kamu mau membantu balas dendamku!”
“Sudah kubilang, aku tak mau.”

Kemudian Yadi mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Pikiran dan tubuhnya terlalu letih untuk mengurusi dendam kelitikan itu. Namun baru saja membuka baju, ia kembali dikejutkan dengan suara “balas dendam.. balas dendam..”. Ya, Dili sudah berada di pojok kamar mandi sambil menutup kedua matanya.

“Cukup, Dili, sekarang katakan apa yang harus aku lakukan!”
Yadi menyerah.

***

Dili pun menjelaskan rencana balas dendamnya kepada Yadi. Rencana yang sangat terstruktur. Ada rencana A, A1, A4, B1, B2, B36, hingga rencana K3. Intinya adalah mencari di mana mantan Dili sekarang tinggal.

“Aku yakin dia masih di Jogja.”
“Meski begitu, tetap saja Jogja tidak seluas jidat lalat! Bagaimana menemukannya?”
“Cek facebooknya.”

Meski heran bagaimana hantu bisa tahu facebook, Yadi tetap saja mencari menggunakan nama yang disebut oleh Dili, Bagas Dityo, itulah nama mantan yang telah keji menggelitiki Dili.

“Iya, tempat tinggalnya masih di Jogja, tapi di mana alamatnya?”
“Cek 4square dia dong!”

Yadi tak habis pikir bagaimana ada hantu segaul ini. Dan akhirnya dia berhasil melacak alamat rumah yang ditulis oleh Bagas Dityo dengan keterangan “HuMz Q” di 4square.

“Kapan kita mendatanginya, Dili?”
“Besok, ketika purnama tiba.”
“Khas banget ya, tipikal horor. Mau menghimpun kekuatan, ya?”
“Bukan, biar romantis aja.. ”
“…”

***

Malam yang dimaksud pun tiba. Pukul sebelas malam. Yadi menunggu di salah satu sudut paling sepi sekitaran Tugu Jogja. Entah apa maksudnya Dili meminta untuk bertemuu di sini, padahal ia bisa dengan mudah mendatangi Yadi di kosnya. Dan ini sudah terlambat dua jam dari rencana yang dibuat Dili, yaitu bertemu pukul sembilan malam.

“Maaf, aku terlambat.” Dili tiba-tiba muncul di samping Yadi.
“Hei, kau sudah telat, bikin kaget pula!”
“Maaf, aku agak gugup, mau ketemu mantan soalnya. Hehehe…”

Yadi hanya bisa menghela napas. Mereka pun berangkat menuju tempat tinggal Bagas yang berada di dekat sana. Yadi sedikit terharu karena akhirnya ada cewek yang duduk di jok belakang motornya setelah sekian lama ia jomblo. Meskipun hantu.

Tibalah mereka di sebuah rumah yang dicurigai tempat tinggal Bagas. Dili pun turun dari motor dan mencium tangan Yadi. Sopan sekali. Dan Yadi tiba-tiba merasa ge-er.

“Cukup sampai sini, selanjutnya biar aku melakukannya sendiri.”
“Lho, lalu apa gunaku di sini?”
“Cuma buat buka facebook dan cari alamatnya kok.”
“Apa? Aku kamu ganggu dan sudah meladenimu sejauh ini dan kamu—”
“Ssstt… jangan keras-keras, nanti ada orang mendengarmu bicara sendiri dan dikira orang gila. Aku cuma mau ditemani, cuma cari perantara buat ke sini. Penghuni kamar sebelum kamu penakut semua. Kamu sudah cukup berjasa untuk balas dendamku.”

Dili pun memeluk Yadi sambil menangis. Yadi membalas pelukan itu sambil menangis pula. Menangis bahagia karena entah sudah lama sekali tak merasakan pelukan wanita. Pelukan kian longgar dan Dili akhirnya masuk ke rumah Bagas.

Yadi menyalakan motor, dan perlahan meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang lega. Hidupnya kembali tenang. Sementara itu, dari kejauhan, terdengar suara teriakan dari rumah yang barusan Yadi hampiri.

“SETAAAANN! HAHAHAHAHA GELI! SETAAAHAHAHAHHAA!!”

(**TAMAT**)
Andi Wirambara

 
Leave a comment

Posted by on March 26, 2014 in Parodi

 

SEBELUM TUBUHKU BENAR-BENAR AMBRUK

:yusti

aku terbangun dalam keadaan benang
di otakku menyala-nyala, berwarna
dalam remang cuaca yang membawa
minyak kayu putih menguap ke atas langit

kemudian menjatuhkan pelukan-pelukan
sebagai hujan yang meniru hangat
senyummu yang perapian.

nanti–atau barangkali esok, jika tubuhku
benar-benar rentan kemudian ambruk.
demi remuk guling dan kusut selimut di
tempat tidurku, biarlah kutumbalkan
rindu dan segala rerindu kerinduannya
pecah di lantai

dan merekat kepingnya satu-satu
menjadi mataku dan matamu
sebagai sepasang embun di daun
yang saling memandang.

====
Malang, 16032014
Andi Wirambara

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2014 in Puisi

 

Tags:

BULU ANGSA DI TANGANMU

Sehelai bulu angsa kau main-mainkan di tanganmu. Kemarin
kaudentingkan sebagai harpa, memainkan nada-nada yang
lebih tinggi dari tempat kau berdiri. sementara aku tergeletak
di dasar, memandangmu usai kembali jatuh oleh gemuruh
yang tak sudi untuk kusebut namanya.

Nada-nada itu begitu lirih, serupa tangis angsa yang
kaucerabuti bulu-bulunya itu. Lengkingnya begitu panjang,
seperti leher angsa yang kaucekik–sebagaimana telah
kaulakukan berulang-ulang pada setiap kematianku.

Sehelai bulu angsa mulai gersang di tanganmu, berkali
kau meniupkan napasmu yang telah lupa dahulu banyak
sejuk embun menitip senyum di sana. telah membuang tetes
salju yang memperdengarkan gigil detak jam. membekukan
danau tempat angsa-angsa membuka sayapnya
kemudian lepas landas di atas kepala

bulu-bulunya mulai gugur
menguburku perlahan.

dan suara denting bulu angsa yang semula kukira hampa
mulai memainkan nada-nada yang melolong pedih.

=====
Malang, 14032014
Andi Wirambara

 
Leave a comment

Posted by on March 14, 2014 in Puisi

 

BEBERAPA BAIT MUNGIL UNTUK BANGUN TIDURMU NANTI

: Teruntuk Yusti

/1/
barisan tawamu menepi di bantal, tertidur
meriwayat nada klarinet merah jambu
sejumput notasi luput, jatuh, dan tertayang
sebagai puisi cinta yang
kaubaca dalam mimpi seraya
aku mendorongmu bermain ayun-ayunan.

/2/
mungkin kau tak sadar, beberapa kali
kudengar kau mendengkur. betapa hari
buatmu menekuri letih yang hinggap di pipimu
kemudian aku menendangnya sejauh-jauh
kenangan yang pernah mendiami dadaku.

kemudian aku mulai membaringkan bibir
dan meninabobokan kecupanku di padangnya.

/3/
melihat matamu terpejam betapa lelap, rindu
di relungku keluar dari cangkangnya. berkeciap
seperti unggas yang menginduk pada
pandangan pertama. seperti urashima yang telah
lama merindu daratan. lalu aku terus memandang
dan memandangmu

hingga kopi di cangkirku dingin, dan hangat
perlahan menyesap merambati hati.


Malang, 21022014
Andi Wirambara

 
Leave a comment

Posted by on March 8, 2014 in Puisi